BREAKING NEWS

Menggali Ketupat atau Menggali Timah: Ratapan Tempilang di Hamparan Laut yang Terbelah

CAMERAJURNALIS.COM, BANGKA BARAT — Di Kecamatan Tempilang, dua aroma yang kontras hidup berdampingan. Di satu sisi, harum ketupat yang direbus dalam santan dan doa leluhur. Di sisi lain, bau solar dari ponton tambang yang mengapung di laut. Kedua hal itu menggambarkan dua arah perjalanan sebuah desa: tradisi yang menjaga ingatan, dan penggalian yang berisiko mengubur masa depan.

Tempilang berada di antara sejarah kebudayaan dan sejarah eksploitasi. Masyarakatnya perlahan dipaksa memilih — mempertahankan nilai budaya atau bergantung pada ekonomi ekstraktif yang cepat namun rapuh.

Ritual Perang Ketupat: Identitas yang Hidup
Suatu pagi di Pantai Pasir Kuning Air Lintang, ribuan warga berkumpul. Anak-anak berlarian, lelaki mengenakan pakaian hitam, perempuan membawa bakul ketupat. Doa dibacakan, lalu ketupat dilempar ke udara. Tawa pecah, langit dipenuhi anyaman daun kelapa dan nasi putih.
Tradisi Perang Ketupat Tempilang telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Ritual ini bukan sekadar perayaan, tetapi tolak bala, syukur menjelang Ramadan, sekaligus pendidikan nilai bagi generasi muda.

Bagi masyarakat, ketupat bukan hanya makanan. Ia simbol etika, iman, dan identitas. Pesannya sederhana: masyarakat diingatkan agar tidak lupa asal-usulnya.

Laut yang Berubah Warna Namun jauh dari keramaian ritual, warna laut Tempilang berubah. Dari biru menjadi abu-abu. Ponton tambang berdiri seperti nisan, mesin diesel meraung, lumpur naik dari dasar laut. Nelayan pulang tanpa hasil, ikan menjauh, terumbu karang rusak.

Sejak masa kolonial hingga kini, pertambangan timah menjadi bagian dari sejarah Bangka Belitung. Perusahaan seperti PT Timah Tbk berkontribusi pada ekonomi daerah. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan sektor tambang memberi pengaruh besar terhadap pendapatan regional.

Namun angka ekonomi tidak menggambarkan dampak sosial. Warga pesisir kehilangan mata pencaharian, anak putus sekolah untuk bekerja di ponton, dan lingkungan mengalami degradasi.

Kajian WWF Indonesia mencatat peningkatan konflik manusia-satwa di wilayah tambang, sementara WALHI menilai kerusakan pesisir Bangka Belitung sebagai tragedi ekologis.
Desa di Tengah Tekanan Ekonomi
Di Tanjung Niur, warga diingatkan melalui pengeras suara untuk waspada terhadap buaya di sungai. Tetapi di balik itu muncul pertanyaan sosial: mengapa bahaya alam diperingatkan, sementara kerusakan akibat manusia terus terjadi.

Berbagai liputan investigasi media nasional menyoroti tambang ilegal, namun praktiknya tetap berlangsung. Kenaikan harga timah, kebutuhan ekonomi, dan lemahnya pengawasan membuat aktivitas terus berulang.
Hukum sering datang terlambat — seperti hujan setelah banjir.

Potensi Pariwisata yang Terabaikan
Padahal Tempilang memiliki kekayaan non-tambang: Pantai Pasir Kuning, Benteng Kota Tempilang, Silat Seramo, kuliner pesisir, hingga cerita laut. Semua merupakan potensi ekonomi berkelanjutan tanpa merusak alam.

Kajian UNESCO menunjukkan warisan budaya tak benda dapat menjadi fondasi ekonomi lokal, sementara riset pariwisata komunitas oleh UNWTO menegaskan desa wisata mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa kerusakan ekologis. Di berbagai daerah Indonesia, budaya menjadi kekuatan ekonomi. Tempilang memiliki peluang serupa melalui Perang Ketupat sebagai festival budaya.

Namun realitasnya, ekonomi cepat dari tambang masih lebih menarik dibanding pembangunan jangka panjang. 

Resource Curse di Desa Pesisir

Fenomena ini dikenal sebagai resource curse — daerah kaya sumber daya tetapi miskin kualitas hidup. Laporan World Bank menyebut ekonomi ekstraktif kerap memicu ketimpangan dan konflik sosial.

Tempilang menjadi cerminnya: Tanah kaya, laut rusak, desa rapuh.

Anak-anak mulai mengenal mesin diesel lebih daripada laut. Tradisi berkurang, ketergantungan ekonomi meningkat.
Jalan Tengah Pembangunan
Para tokoh desa menilai Tempilang tidak harus menolak tambang, tetapi membutuhkan pengelolaan ketat:

- Zonasi pertambangan
- Rehabilitasi pesisir
- Desa wisata berbasis budaya
- Penguatan BUMDes kreatif
- Pendidikan budaya di sekolah
- Pembangunan tidak hanya soal PAD atau APBD, melainkan kemampuan masyarakat menjaga nilai dan lingkungan.

Tempilang sebagai Cermin Indonesia
Tempilang menggambarkan dilema pembangunan nasional: eksploitasi alam berhadapan dengan keberlanjutan budaya. Setiap Perang Ketupat digelar, masyarakat mengingat jati dirinya. Namun setiap ponton beroperasi, masa depan dipertaruhkan.
Seorang nelayan berkata pelan, “Dulu laut memberi ikan. Sekarang laut memberi lumpur.”

Kalimat sederhana itu menggambarkan krisis yang tak bisa dijelaskan angka statistik.
Kini Tempilang sedang menentukan sejarahnya: menjadi bekas kota tambang atau desa budaya yang bertahan ratusan tahun.
Seruan masyarakat pun sederhana menjaga laut, menguatkan tradisi, dan mengajarkan anak mengenal kampungnya.

Karena di negeri kaya sumber daya, satu-satunya harta yang tidak boleh habis digali adalah budaya.


HR dan Tim
Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image