BREAKING NEWS

Permainan Kelereng Hadirkan Suasana Positif di Tengah Masyarakat Sampang

 


Sampang ,Permainan tradisional lomba kelereng kembali menjadi daya tarik masyarakat di berbagai wilayah Kabupaten Sampang. Kegiatan ini digelar sebagai hiburan rakyat yang mengedepankan kebersamaan, tanpa disertai unsur taruhan atau praktik perjudian.


Sejumlah lokasi yang rutin menggelar lomba kelereng di antaranya Desa Paseyan, Dusun Kaso’an, Desa Aengsareh, serta kawasan Jalan Aji Gunung, Kelurahan Gunung Sekar, Kecamatan Sampang. Kehadiran lomba tersebut disambut antusias warga, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.


Murad, warga Desa Paseyan, menegaskan bahwa lomba kelereng yang dilaksanakan di lingkungannya murni bersifat hiburan. Ia membantah adanya praktik taruhan uang atau bentuk perjudian lainnya dalam kegiatan tersebut.


“Dulu memang pernah dibubarkan karena dikira ada perjudian, ternyata hanya fitnah. Sekarang kami sudah tertata dan ada wadahnya,” kata Murad, Sabtu (24/01).


Menurutnya, anggapan yang menyamakan lomba kelereng dengan perjudian tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan. Ia menjelaskan bahwa lomba tersebut mengandalkan keterampilan bermain, bukan mempertaruhkan uang.


“Kalau judi itu seperti sabung ayam atau merpati, kalau lomba kelereng ini murni perlombaan, mengandalkan keterampilan, bukan taruhan,” jelasnya.


Murad juga mengungkapkan bahwa pernah ada pihak tertentu yang meminta “jatah rokok” saat kegiatan berlangsung. Namun permintaan tersebut tidak diakomodasi oleh warga dan tidak berkaitan dengan pelaksanaan lomba.


“Memang ada preman yang minta jatah rokok, tapi tidak kami beri. Mungkin karena itu kemudian muncul fitnah kalau ini judi,” ujarnya.


Hal serupa disampaikan Muhammad, warga Desa Aengsareh. Ia menilai lomba kelereng menjadi ruang silaturahmi antarwarga yang terbuka. Anak-anak hingga orang dewasa dapat berkumpul, baik sebagai peserta maupun penonton, sehingga suasana lingkungan menjadi lebih hidup.


“Kegiatan ini sederhana, tapi bisa mengumpulkan warga. Semua datang dengan senang hati,” ungkap Muhammad.


Sementara itu, Sulaiman, warga Jalan Aji Gunung, Kelurahan Gunung Sekar, menyebut lomba kelereng sebagai hiburan murah yang dapat dinikmati seluruh lapisan masyarakat tanpa biaya besar.


“Sekarang hiburan mahal. Kalau lomba kelereng begini, semua bisa ikut, nonton juga gratis. Anak-anak senang, orang tua ikut terhibur,” katanya.


Ia juga menilai permainan tradisional tersebut memberi dampak positif bagi anak-anak karena mengurangi ketergantungan terhadap gawai dan mendorong interaksi sosial secara langsung.


“Daripada anak-anak main HP terus, lebih baik main kelereng. Ada interaksi, ada tawa, suasana kampung jadi ramai tapi positif,” tambahnya.


Warga menilai kegiatan lomba kelereng tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga berperan dalam melestarikan permainan tradisional yang kini mulai jarang dijumpai. Selain itu, kegiatan tersebut dinilai mampu mempererat kebersamaan dan menjaga keharmonisan lingkungan.


“Kegiatan seperti ini justru mempererat kebersamaan warga dan menghidupkan suasana kampung,” ujar Murad.


Warga pun menyatakan tidak keberatan apabila kegiatan tersebut dipantau oleh aparat atau pihak terkait, sebagai bentuk keterbukaan agar lomba kelereng tetap berjalan sesuai aturan dan benar-benar menjadi hiburan rakyat.


Sebagai permainan tradisional yang telah lama dikenal, lomba kelereng hingga kini masih bertahan sebagai sarana hiburan sederhana yang inklusif serta sarat nilai kebersamaan di tengah masyarakat.




BBG

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image