Ketika Oligarki Berpesta, Rakyat Menjadi Latar
CAMERAJURNALIS.COM, KOTA LANGSA.ACEH - Di bawah tulisan besar:
_“INDONESIA BERDAULAT, ADIL DAN MAKMUR"_
Seorang anak justru tertidur di lantai.
Di sampingnya, kucing-kucing jalanan ikut merebahkan diri.
Sebuah paradoks yang terlalu indah untuk disebut kebetulan.
Di atas sana, negara sedang memasang slogan tentang kemakmuran.
Di bawahnya, realitas sedang menunjukkan siapa yang belum menikmati kemakmuran itu.
Beginilah paradoks negeri yang terlalu sering menyebut dirinya makmur, tetapi membiarkan kemiskinan menjadi pemandangan biasa.
Kekuasaan bersekutu dengan modal.
Sumber daya dikuasai segelintir orang.
Kebijakan mudah berpihak kepada mereka yang punya uang dan akses.
Lalu rakyat?
Disuruh bersabar.
Disuruh bekerja keras.
Disuruh percaya bahwa suatu hari kesejahteraan akan turun dari atas.
Padahal yang turun sering kali hanya janji.
Inilah wajah ketika kapitalisme bertemu kerakusan kekuasaan:
Kekayaan terkonsentrasi, sementara penderitaan didistribusikan.
Dan jangan kira masalahnya selesai hanya dengan mengganti orang di kursi kekuasaan.
Kalau sistemnya tetap memberi ruang bagi kerakusan, wajah boleh berganti, tetapi ketidakadilan akan terus beregenerasi.
Karena itu kita membutuhkan lebih dari sekadar pergantian penguasa.
Kita membutuhkan perubahan paradigma.
Islam tidak memandang kekuasaan sebagai alat memperkaya penguasa, apalagi sebagai kendaraan bagi oligarki. Kekuasaan adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Harta bukan sesembahan.
Negara bukan perusahaan pribadi.
Rakyat bukan angka statistik.
Dan sumber daya yang menyangkut hajat hidup orang banyak bukan sekadar komoditas untuk diperebutkan pemilik modal.
Islam datang membawa ukuran yang berbeda:
Kekuasaan tunduk kepada syariat, penguasa wajib mengurus rakyat, dan kekayaan tidak boleh hanya berputar di kalangan orang-orang kaya.
Maka, foto ini bukan sekadar foto seorang anak yang tertidur.
Ia seperti cermin.
Di atasnya ada slogan kemakmuran.
Di bawahnya ada realitas kehidupan.
Dan di antara keduanya ada pertanyaan yang seharusnya membuat kita gelisah:
Sampai kapan rakyat hanya dijadikan objek janji, sementara segelintir manusia menikmati hasil dari sistem yang mereka kuasai?
Mungkin yang perlu kita pertanyakan bukan lagi:
“Siapa penguasanya?”
Tetapi:
“Sistem apa yang sedang menguasai kita?”
(Junaidy/Gunawan al -Ghiffary)
