Kembangkan Keterampilan Wbp, Lapas Makassar Resmi Buka Sanggar Batik
CAMERAJURNALIS.COM, MAKASSAR — Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Makassar resmi membuka Sanggar Batik sebagai bagian dari penguatan program pembinaan kemandirian bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP), Jumat (2/10/2026).
Kegiatan pembukaan Sanggar Batik dibuka langsung oleh Kepala Lapas Kelas I Makassar, Gumilar Budirahayu, didampingi jajaran. Dalam kesempatan tersebut, Gumilar tidak hanya membuka sanggar, tetapi turut mencoba secara langsung proses membatik pada kain sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan keterampilan dan kreativitas WBP.
Pembukaan Sanggar Batik ini menjadi salah satu langkah Lapas Kelas I Makassar dalam menghadirkan program pembinaan yang memberikan ruang bagi WBP untuk mengembangkan potensi, kreativitas, dan keterampilan yang dapat menjadi bekal ketika nantinya kembali ke tengah masyarakat.
Melalui kegiatan membatik, WBP diberikan kesempatan untuk mempelajari proses pembuatan batik secara langsung, mulai dari pengenalan motif, penggunaan alat dan bahan, hingga proses membatik pada kain. Keterampilan tersebut diharapkan dapat terus dikembangkan menjadi kegiatan produktif yang memiliki nilai ekonomi.
Kepala Lapas Kelas I Makassar, Gumilar Budirahayu, menyampaikan bahwa pembinaan kemandirian tidak hanya berorientasi pada keterampilan, tetapi juga bagaimana membangun kepercayaan diri dan kesiapan WBP untuk kembali menjalani kehidupan di masyarakat.
“Sanggar Batik ini merupakan salah satu wujud nyata komitmen kami dalam memberikan pembinaan kemandirian kepada warga binaan. Kami ingin memberikan ruang bagi mereka untuk belajar, berkarya, dan mengembangkan keterampilan yang nantinya dapat menjadi bekal setelah kembali ke masyarakat,” ujar Gumilar.
Ia juga menegaskan bahwa jajaran Lapas Kelas I Makassar akan terus mendorong pengembangan program pembinaan yang produktif dan memiliki nilai manfaat bagi WBP.
“Yang terpenting adalah bagaimana setiap proses pembinaan dapat memberikan manfaat dan membentuk kemandirian warga binaan. Dengan keterampilan yang dimiliki, kami berharap mereka tidak hanya memiliki kemampuan untuk berkarya, tetapi juga memiliki kepercayaan diri untuk membangun kehidupan yang lebih baik setelah selesai menjalani masa pidana,” lanjutnya.
Keberadaan Sanggar Batik di Lapas Kelas I Makassar diharapkan menjadi ruang kreativitas sekaligus sarana pembelajaran bagi WBP. Selain menghasilkan karya, kegiatan ini juga menjadi bagian dari proses pembentukan sikap disiplin, ketekunan, kreativitas, dan tanggung jawab.
Dengan dibukanya Sanggar Batik, Lapas Kelas I Makassar terus memperkuat komitmennya dalam menghadirkan pembinaan yang berkelanjutan dan berorientasi pada peningkatan kapasitas WBP, sehingga proses pemasyarakatan tidak hanya berfokus pada pembinaan selama menjalani masa pidana, tetapi juga mempersiapkan mereka agar mampu kembali dan berkontribusi secara positif di tengah masyarakat.

