Categorised Posts

Konferprov PWI Sulsel Membara: Tanggal Main Sudah Dekat, Lokasi Masih Misteri!

CAMERAJURNALIS.COM, MAKASSAR - Tensi menjelang Konferensi Provinsi (Konferprov) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Selatan kian mendidih. Bukannya menjadi ajang konsolidasi yang solid untuk menyambut estafet kepemimpinan periode 2026–2031, agenda akbar lima tahunan ini justru dihujani kritik pedas dari anggotanya sendiri yang mencium adanya gelagat ketidakprofesionalan, ketertutupan, hingga indikasi muatan kepentingan sepihak.

Fokus polemik kini tertuju pada kontradiksi jadwal: hari pencoblosan sudah dipatok pada 2 Juni 2026, namun di mana lokasinya masih menjadi misteri yang dirahasiakan dari anggota. Skenario "gantung" ini memicu kepanikan sekaligus tanda tanya besar mengenai sejauh mana kesiapan dan transparansi panitia dalam menakhodai acara.

Gelombang protes pun datang dari deretan jurnalis senior di Makassar. Bagi mereka, ketidakpastian venue yang sudah mepet ini adalah rapor merah bagi organisasi sekelas PWI, yang seharusnya menjadi kiblat profesionalisme dan keterbukaan dalam melibatkan seluruh anggotanya.

"Ini bukan sekadar kongkow biasa, melainkan panggung tertinggi organisasi di level provinsi. Kalau urusan tempat saja masih abu-abu, bagaimana kami bisa percaya proses pemilihannya bakal berjalan bersih?" cetus sejumlah wartawan dengan nada kecewa, Jumat (22/5/2026).

Celakanya, sengkarut Konferprov tidak berhenti pada urusan sewa gedung atau tempat pelaksanaan. Isu miring mengenai ketidaknetralan panitia juga mulai berembus kencang, di mana kepengurusan dituding sengaja mendesain acara demi memuluskan jalan kubu tertentu. Kecurigaan ini kian beralasan menyusul karut-marutnya Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang dinilai berantakan.

Faktanya di lapangan, sejumlah nama anggota yang sah justru terdepak dari daftar pemilih. Anehnya, ada oknum yang status keanggotaannya masih dipertanyakan tetapi malah melenggang masuk DPT. Sengkarut data ini jelas memicu alarm bahaya akan potensi gugatan masal pasca-pemilihan nanti.

"DPT itu jantungnya pemilu organisasi, penentu legitimasi ketua terpilih. Kalau fondasinya sudah cacat sejak awal, Konferprov ini taruhannya bisa kehilangan marwah," tegas salah satu pengurus PWI tingkat kabupaten di Sulsel.

Merespons badai kritik tersebut, Ketua Panitia Pelaksana Konferprov PWI Sulsel, Faisal Palapa, akhirnya angkat bicara dan mengakui bahwa lokasi acara memang masih mengambang. Ia berdalih, panitia saat ini tengah memutar otak untuk menyiasati antara kebutuhan logistik dan realitas isi dompet organisasi.

"Kami masih harus menyesuaikan dengan kondisi dana yang tersedia saat ini. Namun untuk waktu eksekusinya, kami pastikan tetap on schedule pada 2 Juni 2026," ungkap Faisal saat dikonfirmasi via telepon, Jumat (22/5/2026) siang.

Alih-alih meredakan situasi, pembelaan tersebut justru memantik reaksi yang lebih keras. Anggota menilai panitia terlalu memaksakan diri dan keras kepala karena tetap mengejar tanggal tayang di saat komponen paling krusial seperti tempat acara belum juga rampung.

Kini, desakan agar panitia buka-bukaan semakin tak terbendung, mulai dari transparansi aliran dana, utak-atik DPT, hingga draf tata tertib sidang. Para anggota tidak ingin hajatan sakral PWI Sulsel ini justru merosot menjadi ring tinju internal yang berujung mempermalukan citra profesi jurnalis di mata publik.

Gema tuntutan evaluasi total pun mulai bersahutan dari berbagai daerah. Sejumlah pengurus daerah mendesak PWI Pusat segera turun gunung melakukan supervisi ketat demi menyelamatkan jalannya Konferprov agar tetap berada di rel konstitusi organisasi dan marwah demokrasi.

Hingga saat ini, potret buram seputar misteri lokasi, manipulasi DPT, dan independensi panitia masih menjadi komoditas perbincangan hangat di warung-warung kopi jurnalis. Atmosfer menjelang hari-H Konferprov PWI Sulsel pun dipastikan makin membara, diselimuti kabut ketidakpastian yang pekat. (*)
KABAR NASIONAL
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image