Di Depan Cermin Kebenaran
CAMERAJURNALIS.COM, KOTA LANGSA.ACEH - Di sebuah ruangan sederhana di pinggiran kota Konoha, cahaya lampu minyak menerangi wajah seorang pria yang duduk tertunduk dalam-dalam. Ia adalah seorang pegawai negeri, sebut saja namanya sijol yang setiap hari mengenakan seragam rapi, disapa dengan hormat, namun malam ini hatinya terasa teriris tajam. Di hadapannya duduk seorang ulama terpandang, dipanggil semua orang dengan sebutan Tengku, yang diam menunggu agar kalimat yang tertahan itu akhirnya terucap .
Pria itu mengangkat wajahnya, matanya berkaca-kaca, lalu berkata perlahan namun tegas,
"Tengku...(sebutan kepada sosok yang dihormati, guru ngaji, dan sebagainya) seandainya kita jujur pada diri sendiri, ternyata kita ini termasuk golongan kaum yang mendustakan dan menduakan Allah SWT. Kita lebih percaya kepada ilmu serta hukum yang dibuat manusia, ketimbang ilmu dan ketetapan yang datang dari Pencipta kita. Maka karena itulah, janganlah kita menganggap diri ini sebagai orang yang benar-benar beriman ya, Tengku..."
Ia berhenti sejenak, menarik napas panjang sebelum melanjutkan suara yang makin bergetar:
"Dan bukankah kenyataannya begini, Tengku? Banyak di antara kita yang jauh lebih takut kepada atasan—takut dimarahi, takut dipindah tugaskan, takut kehilangan jabatan dan penghasilan—daripada rasa takut akan berbuat salah di hadapan Allah yang Maha Melihat segala sesuatu, bahkan yang tersembunyi di dalam hati sekalipun."
Tengku tidak langsung menjawab. Ia memandang nyala api pelita yang bergoyang pelan, lalu bertanya lembut: "Apa yang membuatmu sampai pada pemikiran ini, anakku?"
"Setiap hari saya melihatnya," jawab pria itu. "Saya melihat orang tahu ada perintah yang melanggar aturan agama, namun tetap dilaksanakan karena itu perintah pimpinan. Saya melihat anggaran dipangkas dari pelayanan rakyat, namun gaji dan tunjangan pejabat tetap utuh. Saya melihat keputusan diambil bukan berdasarkan apa yang benar menurut ajaran Islam, melainkan demi menyenangkan mereka yang berkuasa, agar posisi kita tetap aman dan terjaga. Ilmu yang kita pelajari hanya dijadikan alat mencari kedudukan, bukan untuk menegakkan keadilan yang diperintahkan-Nya."
"Kita mengira kita beriman karena melaksanakan ibadah lahiriah, namun hati kita tunduk dan patuh sepenuhnya kepada manusia yang sama-sama lemah dan bisa salah. Bukankah itu berarti kita menaruh harap dan takut kepada selain Allah? Itulah bentuk kesyirikan yang tersembunyi, yang sering kali tidak kita sadari," tambahnya dengan suara lirih namun penuh penyesalan.
Tengku mengangguk pelan, lalu berbicara dengan nada tenang namun menusuk kalbu:
"Kata-katamu itu seperti cermin yang membersihkan debu dari pandangan kita. Benar, banyak di antara kita yang menjadikan manusia sebagai sandaran hidup, padahal manusia pun makhluk yang diciptakan. Ketakutan akan kehilangan jabatan, harta, atau kedudukan sering kali membuat kita melupakan bahwa semua itu titipan semata—dan Dialah Pemilik segala sesuatu yang berhak mengatur dan mengambilnya kembali kapan saja."
"Namun ingatlah," lanjut Tengku, "menyadari kesalahan itu adalah langkah pertama menuju perbaikan. Allah Maha Pengampun, Maha Penerima Tobat. Jika hati sudah terbuka untuk melihat kenyataan, maka jalan pulang pun terbuka lebar. Mulailah menempatkan rasa takut dan harap hanya kepada-Nya, sehingga ketika berdiri di hadapan manusia pun, engkau tetap teguh pada kebenaran karena sadar ada Pengawas yang Maha Tinggi."
Pria itu terdiam, beban berat di dadanya perlahan terangkat namun digantikan kesadaran baru yang mendalam. Ia tahu perjalanan mengubah diri sendiri tidaklah mudah, namun hari ini ia telah berani menyebutkan kebenaran di hadapannya sendiri—sesuatu yang belum tentu berani dilakukan orang lain.
Malam itu berlalu, namun percikan kesadaran itu tetap menyala di hatinya, menjadi pengingat abadi: bahwa derajat manusia tidak diukur dari seberapa tinggi kedudukannya di mata dunia, melainkan seberapa lurus ia berjalan di jalan yang diridhai Allah SWT.
Catatan: Cerita ini adalah karangan fikt
