Keluhan Para Pejabat
CAMERAJURNALIS.COM, KOTA LANGSA.ACEH - Akhir- akhir ini kebanyakan para pejabat baik di Lingkungan Pemerintahan maupun di Pemerintahan Desa (Kepala Desa) yang menyampaikan keluhannya kepada LSM dan awak media yang menyampaikan bahwa menjadi pejabat saat sekarang ini sangat susah dalam menjalankan tugas.
Pasalnya banyak anggaran dipotong dengan alasan difisit, sehingga dalam hal menjalankan aktifitas pemerintahan pada segala bidang, dan juga berkenaan dengan pelayanan masyarakat dana operasionalnya tidak mencukupi sehingga tidak dapat menjangkau semua lini.
"Repot kali meniadi pejabat sekarang ini. Anggaran dipotong, setiap langkah dipantau LSM, dan setiap kegiatan dan pembicaraan serta ucapan direkam wartawan sehingga tidak bisa bebas berbuat sesuka hati", gumam mereka.
Namun lucunya ditengah gemuruh keluhan, mereka terus berlomba mempertahankan, mencari jabatan atau mencalonkan diri lagi sebagai pejabat, termasuk sebagai kepala desa. Inikan Aneh bin Ajaib.
Fenomena diatas menjadi cerita anekdot yang diberi judul
*Topeng Diatas Kursi Empuk"
Oleh : Zulfadli, S.Sos.l, MM
(Penggiat Sosial)
Di ruang rapat yang beralaskan karpet tebal dan sejuknya udara dari penyejuk yang namannya AC, berkumpulah para pejabat. Mereka duduk di kursi berbalut kulit berbahan kain halus, di atas meja terbentang berbagai snack dan buah-buahan serta tumpukan berkas-berkas anggaran. Dari mulut mereka secara bersahutan mengeluarkan kalimat dengan nada mengeluh.
"Susah sekali menjadi pejabat zaman sekarang," kata salah seorang pria berjas rapi sambil menghela napas panjang.
"Anggaran dikurangi di sana-sini, setiap langkah dipantau Lembaga Swadaya Masyarakat, setiap ucapan direkam awak media. Tak ada lagi ruang bergerak."
Yang lain mengangguk setuju, lalu salah seorang menambahkan: "Padahal kami ingin berbuat banyak. Tapi lihatlah keadaan sekarang ini. Jika begini terus, bagaimana mungkin angka kemiskinan turun? Bagaimana rakyat makmur?, bagaimana kita melayani masyarakat?
Namun, di sudut ruangan ada seorang lelaki tua yang hanya diam mendengarkan. Matanya tajam menatap satu per satu wajah mereka, hingga pada akhirnya ia berdiri seraya berkata dengan suara bergema dan bergetar didalam ruangan tersebut.
"Kalian semua mengeluh namun berniat mencalonkan diri lagi, lalu apa yang kalian harapkan jika duduk kembali di kursi itu lagi ?" tanyanya tenang namun tegas.
"Apakah hanya dengan duduk di sana, angka kemiskinan akan turun sendiri? Apakah kemakmuran akan datang dengan sendirinya karena kalian memegang jabatan?"
Suasana menjadi hening. Tak ada yang berani menjawab.
Lelaki tua itu melanjutkan, suaranya kini semakin lantang: "Kalian ini para pembohong ! Jika sisa uang dari pejabat-pejabat sebelumnya benar-benar digunakan untuk memakmurkan rakyat, pasti negeri ini sudah berubah indah. Sebenarnya, kalian datang ke sini hanya untuk mencari pekerjaan, dan cara kalian mendapatkan posisi itu adalah dengan menjual nama rakyat demi kepentingan sendiri."
Ia berhenti sejenak, menatap jendela yang terbuka sedikit ke arah langit, lalu berkata lagi dengan nada sedih namun penuh keyakinan:
"Ingatlah, jika bukan hukum Allah yang dipegang, semuanya hanya kebohongan semata. Lihatlah kenyataannya, Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 pun sering kali kalian sisihkan. Kalian lebih memilih mematuhi peraturan buatan pemerintah yang kalian ciptakan sendiri, hanya demi melindungi keuntungan pribadi dan kelompok kalian."
"Kita ini sebenarnya termasuk golongan yang kurang percaya pada petunjuk Illahi," tambahnya pelan namun menusuk hati.
Kita lebih mengandalkan hukum buatan manusia yang bisa diubah-ubah sesuka hati. "Lihatlah para pemimpin kita, mereka lebih takut pada teguran atasan daripada takut kepada Tuhan Yang Maha Melihat segala perbuatan."
Salah satu pejabat mencoba membela diri, berkata bahwa mereka tetap berusaha menjadi orang baik. Namun lelaki tua itu tersenyum getir, lalu melontarkan pertanyaan yang membuat mereka terdiam sejenak:
"Kalian bilang kalian orang baik? Baik dari mana? Apakah baik menurut mata Dajjal yang menyukai kemewahan, kekuasaan, dan kebohongan?"
Tak ada lagi suara di ruangan itu. Hanya tersisa keheningan yang menyadarkan mereka bahwa jabatan sejatinya bukanlah tempat untuk mencari keuntungan pribadi, melainkan amanah berat yang kelak akan dipertanggungjawabkan. Bukan hanya di hadapan manusia, melainkan di hadapan Sang Pencipta Alam Semesta.
*Cerita anekdot ini adalah gambaran yang terjadi disekitar kita, dan tidak bermaksud menyinggung siapapun. Hanya sekedar saling mengingatkan*
(Junaidy)
