Categorised Posts

Ketika Ulama Lebih Banyak Memuji Sang Penguasa "Ketika Mimbar Mulai Kehilangan Keberanian di Hadapan Kekuasaan"

CAMERAJURNALIS.COM, ACEH - 
Ada sesuatu yang lebih mengkhawatirkan daripada penguasa yang tidak suka dinasihati:
Ketika orang-orang berilmu mulai tidak berani menasihatinya.

Dan ada sesuatu yang lebih menyedihkan daripada penguasa yang gemar dipuji:
Ketika ulama justru berlomba menyediakan pujian itu.

Ketika rakyat kecil melakukan kesalahan, nasihat agama terdengar begitu lantang. Ayat dibacakan. Hadis dikutip. Ancaman Allah diingatkan. Halal dan haram ditegaskan tanpa ragu.

Tetapi ketika kezaliman datang dari mereka yang memiliki kekuasaan, suara itu kadang berubah Menjadi lebih pelan, Lebih hati-hati.
Bahkan terkadang hilang.

Yang terdengar justru sanjungan.
Keberhasilan dibicarakan berulang-ulang, sementara penderitaan rakyat seperti tidak menemukan tempat dalam ceramah.
Prestasi penguasa dihitung satu per satu, sementara air mata orang yang terzalimi nyaris tidak disebut.

Jika keadaan seperti ini terjadi, pertanyaannya bukan lagi sekadar: “Mengapa penguasa begitu senang dipuji?”

Tetapi pertanyaan yang jauh lebih menyakitkan adalah: “Mengapa sebagian pemilik ilmu begitu takut kehilangan kedekatan dengan kekuasaan?”

Padahal dahulu para nabi datang bukan untuk membuat penguasa nyaman dengan kekuasaannya.

Musa عليه السلام datang kepada Fir‘aun membawa kebenaran.

Ibrahim عليه السلام berdiri menghadapi Namrud dengan hujah.

Dan Nabi Muhammad ﷺ menyampaikan risalah di tengah para pembesar Quraisy tanpa menjual satu ayat pun demi memperoleh penerimaan mereka.
Karena risalah langit tidak pernah diturunkan untuk menjadi pengeras suara kekuasaan.
Risalah diturunkan untuk membimbing kekuasaan agar tunduk kepada Allah.

Maka bayangkan jika suatu hari mimbar lebih sibuk menjelaskan betapa hebatnya penguasa daripada mengingatkannya tentang amanah.
Bayangkan jika majelis ilmu berubah menjadi ruang legitimasi.
Bayangkan jika dalil-dalil agama hanya keras kepada rakyat kecil, tetapi menjadi sangat lentur ketika berhadapan dengan orang besar.

Saat itulah yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar independensi seorang ulama. Yang dipertaruhkan adalah kehormatan ilmu itu sendiri.

Namun tulisan ini bukan ajakan membenci ulama.
Bukan pula seruan untuk mencaci penguasa.

Justru ini adalah muhasabah untuk kita semua.
Sebab ulama adalah manusia yang dapat diuji oleh kedekatan, kehormatan, fasilitas, popularitas, bahkan ketakutan. Dan penguasa juga manusia yang sangat membutuhkan orang-orang saleh di sekelilingnya.

Karena itu, seorang penguasa sesungguhnya tidak terlalu membutuhkan ulama yang selalu mengatakan: “Anda benar.”

Ia membutuhkan ulama yang mencintainya karena Allah sehingga memiliki keberanian berkata: “Dalam perkara ini Anda benar, kami mendukung Anda. Tetapi dalam perkara ini Anda keliru, maka takutlah kepada Allah.”

Sebab di sekitar kekuasaan, orang yang pandai memuji biasanya tidak pernah kurang.
Ada pejabat yang mengangguk, bawahan yang takut berbeda, pendukung yang selalu membenarkan, bahkan orang-orang yang pandai mengubah kesalahan menjadi seolah-olah prestasi.

Karena itulah salah satu suara yang seharusnya tetap jernih adalah suara ulama.

Ulama bukan musuh penguasa. Ulama juga bukan oposisi hanya karena ingin terlihat berani. Ulama mendoakan pemimpin, menasihatinya, membantunya dalam kebaikan, dan menjaga masyarakat dari kekacauan.

Tetapi justru karena mencintai pemimpin dan umat, ulama tidak boleh kehilangan keberanian untuk mengatakan:

“Yang benar adalah benar, dan yang salah tetaplah salah.”

Ketika Pujian Menjadi Terlalu Banyak

Memuji kebaikan seorang pemimpin tidak selalu tercela.

Jika seorang penguasa berbuat adil, membela rakyat kecil, menjaga agama, memberantas kezaliman, atau menghadirkan kemaslahatan, mengakui kebaikannya adalah bagian dari keadilan.

Allah berfirman:

«“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, sekalipun terhadap dirimu sendiri, ibu bapak dan kaum kerabatmu.”
(QS. an-Nisā’: 135)»

Persoalannya bukan sekadar ulama memuji penguasa.

Persoalan mulai muncul ketika pujian terdengar sangat lantang, sementara nasihat terhadap kesalahan nyaris tidak pernah terdengar.

Ketika keberhasilan kecil dielu-elukan, tetapi kezaliman besar dicari pembenarannya.

Ketika dekat dengan rakyat, lisannya fasih berbicara tentang amar makruf nahi mungkar. Tetapi ketika duduk di hadapan orang yang berkuasa, ayat-ayat tentang keadilan tiba-tiba terasa terlalu berat untuk disampaikan.

Di situlah kita patut bermuhasabah:
Apakah ilmu masih sedang membimbing kekuasaan, atau justru kekuasaan mulai mengendalikan suara ilmu?

Penguasa Membutuhkan Cermin, Bukan Hanya Tepuk Tangan

Seorang pemimpin adalah manusia. Ia bisa benar dan bisa salah. Ia dapat berlaku adil, tetapi juga mungkin tergelincir. Kekuasaan tidak membuat seseorang menjadi ma‘shum.

"Justru semakin besar kekuasaan seseorang, semakin besar pula kebutuhannya kepada orang-orang yang berani mengingatkannya."

Bayangkan seorang raja yang seluruh orang di sekelilingnya hanya berkata:
“Benar, Tuan.”
“Hebat, Tuan.”
“Tidak ada yang salah, Tuan.”

Lalu siapa yang akan memberitahunya ketika rakyat mulai menangis?
Siapa yang akan mengingatkannya ketika kebijakan mulai melukai?
Siapa yang akan mengetuk pintu hatinya ketika kekuasaan perlahan membuatnya merasa bahwa setiap keputusannya pasti benar?

Di sinilah ulama memiliki kedudukan yang sangat mulia.
Bukan sebagai penghias istana.
Bukan sebagai legitimasi religius bagi setiap kebijakan.
Bukan pula sebagai alat untuk membuat penguasa terlihat saleh di mata rakyat. Tetapi sebagai penjaga nurani kekuasaan.

Nabi ﷺ Mengingatkan Bahaya Pujian Berlebihan, 
Islam bahkan mengajarkan kehati-hatian terhadap pujian.

Ketika Rasulullah ﷺ mendengar seseorang memuji orang lain secara berlebihan, beliau bersabda:
«“Celaka engkau! Engkau telah memotong leher saudaramu.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)»

Bukan berarti semua pujian dilarang. Tetapi pujian yang berlebihan dapat menjadi racun bagi jiwa. Apalagi ketika orang yang dipuji memiliki kekuasaan.

Pujian dapat membuat seseorang lupa bahwa di balik kursi yang tinggi terdapat kubur yang rendah.
Di balik gelar kehormatan terdapat nama yang kelak hanya tertulis pada batu nisan.
Dan di balik seluruh kewenangan dunia terdapat hari ketika ia akan berdiri sendirian di hadapan Allah.

Karena itu, boleh jadi nasihat seorang ulama yang membuat penguasa tidak nyaman hari ini justru menjadi salah satu sebab keselamatannya kelak.

Ulama Rabbani Tidak Menjual Lisannya

Al-Qur’an menggambarkan tugas orang-orang yang menyampaikan risalah Allah:

«“(Yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan tidak takut kepada siapa pun selain Allah.”
(QS. al-Ahzāb: 39)»

Inilah kemerdekaan sejati seorang ulama.
Bukan berarti ia harus kasar.
Bukan berarti ia harus mencaci pemimpin.
Bukan pula berarti setiap nasihat harus diteriakkan di hadapan publik.

Nasihat mempunyai adab, hikmah, waktu, dan cara.

Allah bahkan memerintahkan Musa dan Harun عليهما السلام ketika menghadapi Fir‘aun:

«“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia sadar atau takut.”
(QS. Ṭāhā: 44)»

Perhatikanlah.
Lembut, tetapi tidak kehilangan kebenaran.
Santun, tetapi tidak kehilangan prinsip.
Dekat dengan penguasa, tetapi hati tetap merdeka di hadapan Allah.

Itulah keseimbangan yang mahal.
Jangan Sampai Kedekatan Mengubah Fatwa

Yang perlu ditakuti bukan semata-mata ulama berada dekat dengan penguasa.

Dalam sejarah Islam, banyak ulama berinteraksi dengan pemimpin untuk menasihati, mengajarkan agama, dan memperjuangkan kemaslahatan umat.

Yang berbahaya adalah ketika kedekatan itu mulai mengubah keberanian.

Ketika dahulu sesuatu disebut zalim, tetapi setelah dekat dengan kekuasaan ia diberi nama baru agar terdengar halal.
Ketika standar halal-haram berubah mengikuti siapa yang sedang memerintah.
Ketika dalil dipilih bukan untuk mencari kehendak Allah, tetapi untuk membenarkan kehendak manusia.

Saat itulah ilmu berada dalam ujian yang sangat berat.

Sebab seorang ulama mungkin tidak kehilangan sorban, mimbar, gelar, pengikut, atau popularitasnya.
Tetapi ia dapat kehilangan sesuatu yang jauh lebih mahal:

kemerdekaan nuraninya di hadapan Allah.

Wahai Ulama, Penguasa Akan Berganti

Hari ini seseorang duduk di singgasana kekuasaan.

Besok namanya mungkin tinggal sejarah.
Hari ini pintu istana terbuka lebar.
Besok boleh jadi orang lain yang menempatinya.

Hari ini manusia berdiri memberikan penghormatan.
Tetapi suatu hari ia akan dibaringkan dalam tanah, tanpa pengawal, tanpa jabatan, tanpa protokoler.

Demikian pula ulama.
Kita semua sedang berjalan menuju tempat yang sama.
Kubur.
Kemudian mahkamah Allah.

Maka janganlah dunia yang terlalu singkat membuat ilmu yang diwariskan para nabi kehilangan kehormatannya.
Jangan biarkan mimbar menjadi tempat mengharumkan manusia, sementara keberanian menyampaikan kebenaran perlahan menghilang.

Dan Wahai Para Penguasa...
Jangan hanya mencintai ulama yang memujimu.
Cintailah pula ulama yang dengan santun mengingatkanmu.

Jangan buru-buru menganggap orang yang menasihati sebagai musuh.
Boleh jadi orang yang selalu memujimu sedang menjaga kedudukannya di sisimu, sementara orang yang berani mengatakan kesalahanmu justru sedang menjaga keselamatanmu di hadapan Allah.

Betapa beruntung seorang pemimpin yang memiliki orang saleh di dekatnya yang berani berkata: “Takutlah kepada Allah.”

Dan betapa berbahayanya seorang pemimpin ketika seluruh orang di sekelilingnya telah belajar satu kalimat:

“Apa pun yang Anda lakukan, kami akan membenarkannya.”

Pada Akhirnya, Kita Akan Berdiri Sendiri

Wahai para pemilik ilmu...

Kita tidak sedang menyiapkan jawaban untuk penguasa.
Kita sedang menyiapkan jawaban untuk Penguasa seluruh penguasa.

Allah.

Suatu hari tidak ada lagi kamera.
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada jabatan.
Tidak ada panggung.
Tidak ada undangan kehormatan.
Tidak ada orang penting yang perlu kita senangkan.
Yang ada hanyalah seorang hamba berdiri membawa seluruh perkataannya di hadapan Rabb-nya.

Pada hari itu mungkin kita akan mengetahui betapa mahal harga sebuah kalimat kebenaran yang dahulu takut kita ucapkan.

Karena itu, bila penguasa berbuat baik, pujilah secara proporsional dan doakan agar ia istiqamah.

Bila ia keliru, nasihatilah dengan ilmu, hikmah, adab, dan keberanian.
Bila ia zalim, jangan jadikan agama sebagai kain indah untuk menutupi kezalimannya.

Sebab ulama tidak diwarisi ilmu para nabi agar menjadi gema bagi suara kekuasaan, tetapi agar menjadi cahaya yang menunjukkan jalan ketika kekuasaan mulai kehilangan arah.
Dan mungkin salah satu bentuk cinta terbesar seorang ulama kepada penguasa bukanlah banyaknya pujian yang ia berikan...

melainkan keberaniannya membisikkan kebenaran ketika semua orang di sekeliling sang penguasa memilih diam.

Sebab pujian mungkin membuat seorang penguasa tersenyum hari ini.
Tetapi nasihat yang tulus boleh jadi menyelamatkannya di hadapan Allah kelak.

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.

Oleh Ust Abdul Latif Khan
Serial dari Mihrab Maya
(Junaidy) KETIKA ULAMA LEBIH BANYAK MEMUJI SANG PENGUASA
"Ketika Mimbar Mulai Kehilangan Keberanian di Hadapan Kekuasaan"

CAMERAJURNALIS.COM, ACEH - 
Ada sesuatu yang lebih mengkhawatirkan daripada penguasa yang tidak suka dinasihati:
Ketika orang-orang berilmu mulai tidak berani menasihatinya.

Dan ada sesuatu yang lebih menyedihkan daripada penguasa yang gemar dipuji:
Ketika ulama justru berlomba menyediakan pujian itu.

Ketika rakyat kecil melakukan kesalahan, nasihat agama terdengar begitu lantang. Ayat dibacakan. Hadis dikutip. Ancaman Allah diingatkan. Halal dan haram ditegaskan tanpa ragu.
Tetapi ketika kezaliman datang dari mereka yang memiliki kekuasaan, suara itu kadang berubah.
Menjadi lebih pelan. 
Lebih hati-hati.
Bahkan terkadang hilang.

Yang terdengar justru sanjungan.
Keberhasilan dibicarakan berulang-ulang, sementara penderitaan rakyat seperti tidak menemukan tempat dalam ceramah.
Prestasi penguasa dihitung satu per satu, sementara air mata orang yang terzalimi nyaris tidak disebut.

Jika keadaan seperti ini terjadi, pertanyaannya bukan lagi sekadar: “Mengapa penguasa begitu senang dipuji?”

Tetapi pertanyaan yang jauh lebih menyakitkan adalah: “Mengapa sebagian pemilik ilmu begitu takut kehilangan kedekatan dengan kekuasaan?”

Padahal dahulu para nabi datang bukan untuk membuat penguasa nyaman dengan kekuasaannya.

Musa عليه السلام datang kepada Fir‘aun membawa kebenaran.

Ibrahim عليه السلام berdiri menghadapi Namrud dengan hujah.

Dan Nabi Muhammad ﷺ menyampaikan risalah di tengah para pembesar Quraisy tanpa menjual satu ayat pun demi memperoleh penerimaan mereka.
Karena risalah langit tidak pernah diturunkan untuk menjadi pengeras suara kekuasaan.
Risalah diturunkan untuk membimbing kekuasaan agar tunduk kepada Allah.

Maka bayangkan jika suatu hari mimbar lebih sibuk menjelaskan betapa hebatnya penguasa daripada mengingatkannya tentang amanah.
Bayangkan jika majelis ilmu berubah menjadi ruang legitimasi.
Bayangkan jika dalil-dalil agama hanya keras kepada rakyat kecil, tetapi menjadi sangat lentur ketika berhadapan dengan orang besar.

Saat itulah yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar independensi seorang ulama. Yang dipertaruhkan adalah kehormatan ilmu itu sendiri.

Namun tulisan ini bukan ajakan membenci ulama.
Bukan pula seruan untuk mencaci penguasa.

Justru ini adalah muhasabah untuk kita semua.
Sebab ulama adalah manusia yang dapat diuji oleh kedekatan, kehormatan, fasilitas, popularitas, bahkan ketakutan. Dan penguasa juga manusia yang sangat membutuhkan orang-orang saleh di sekelilingnya.

Karena itu, seorang penguasa sesungguhnya tidak terlalu membutuhkan ulama yang selalu mengatakan: “Anda benar.”

Ia membutuhkan ulama yang mencintainya karena Allah sehingga memiliki keberanian berkata: “Dalam perkara ini Anda benar, kami mendukung Anda. Tetapi dalam perkara ini Anda keliru, maka takutlah kepada Allah.”

Sebab di sekitar kekuasaan, orang yang pandai memuji biasanya tidak pernah kurang.
Ada pejabat yang mengangguk, bawahan yang takut berbeda, pendukung yang selalu membenarkan, bahkan orang-orang yang pandai mengubah kesalahan menjadi seolah-olah prestasi.

Karena itulah salah satu suara yang seharusnya tetap jernih adalah suara ulama.

Ulama bukan musuh penguasa. Ulama juga bukan oposisi hanya karena ingin terlihat berani. Ulama mendoakan pemimpin, menasihatinya, membantunya dalam kebaikan, dan menjaga masyarakat dari kekacauan.

Tetapi justru karena mencintai pemimpin dan umat, ulama tidak boleh kehilangan keberanian untuk mengatakan:

“Yang benar adalah benar, dan yang salah tetaplah salah.”

Ketika Pujian Menjadi Terlalu Banyak

Memuji kebaikan seorang pemimpin tidak selalu tercela.

Jika seorang penguasa berbuat adil, membela rakyat kecil, menjaga agama, memberantas kezaliman, atau menghadirkan kemaslahatan, mengakui kebaikannya adalah bagian dari keadilan.

Allah berfirman:

«“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, sekalipun terhadap dirimu sendiri, ibu bapak dan kaum kerabatmu.”
(QS. an-Nisā’: 135)»

Persoalannya bukan sekadar ulama memuji penguasa.

Persoalan mulai muncul ketika pujian terdengar sangat lantang, sementara nasihat terhadap kesalahan nyaris tidak pernah terdengar.

Ketika keberhasilan kecil dielu-elukan, tetapi kezaliman besar dicari pembenarannya.

Ketika dekat dengan rakyat, lisannya fasih berbicara tentang amar makruf nahi mungkar. Tetapi ketika duduk di hadapan orang yang berkuasa, ayat-ayat tentang keadilan tiba-tiba terasa terlalu berat untuk disampaikan.

Di situlah kita patut bermuhasabah:
Apakah ilmu masih sedang membimbing kekuasaan, atau justru kekuasaan mulai mengendalikan suara ilmu?

Penguasa Membutuhkan Cermin, Bukan Hanya Tepuk Tangan

Seorang pemimpin adalah manusia. Ia bisa benar dan bisa salah. Ia dapat berlaku adil, tetapi juga mungkin tergelincir. Kekuasaan tidak membuat seseorang menjadi ma‘shum.

"Justru semakin besar kekuasaan seseorang, semakin besar pula kebutuhannya kepada orang-orang yang berani mengingatkannya."

Bayangkan seorang raja yang seluruh orang di sekelilingnya hanya berkata:
“Benar, Tuan.”
“Hebat, Tuan.”
“Tidak ada yang salah, Tuan.”

Lalu siapa yang akan memberitahunya ketika rakyat mulai menangis?
Siapa yang akan mengingatkannya ketika kebijakan mulai melukai?
Siapa yang akan mengetuk pintu hatinya ketika kekuasaan perlahan membuatnya merasa bahwa setiap keputusannya pasti benar?

Di sinilah ulama memiliki kedudukan yang sangat mulia.
Bukan sebagai penghias istana.
Bukan sebagai legitimasi religius bagi setiap kebijakan.
Bukan pula sebagai alat untuk membuat penguasa terlihat saleh di mata rakyat. Tetapi sebagai penjaga nurani kekuasaan.

Nabi ﷺ Mengingatkan Bahaya Pujian Berlebihan, 
Islam bahkan mengajarkan kehati-hatian terhadap pujian.

Ketika Rasulullah ﷺ mendengar seseorang memuji orang lain secara berlebihan, beliau bersabda:
«“Celaka engkau! Engkau telah memotong leher saudaramu.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)»

Bukan berarti semua pujian dilarang. Tetapi pujian yang berlebihan dapat menjadi racun bagi jiwa. Apalagi ketika orang yang dipuji memiliki kekuasaan.

Pujian dapat membuat seseorang lupa bahwa di balik kursi yang tinggi terdapat kubur yang rendah.
Di balik gelar kehormatan terdapat nama yang kelak hanya tertulis pada batu nisan.
Dan di balik seluruh kewenangan dunia terdapat hari ketika ia akan berdiri sendirian di hadapan Allah.

Karena itu, boleh jadi nasihat seorang ulama yang membuat penguasa tidak nyaman hari ini justru menjadi salah satu sebab keselamatannya kelak.

Ulama Rabbani Tidak Menjual Lisannya

Al-Qur’an menggambarkan tugas orang-orang yang menyampaikan risalah Allah:

«“(Yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan tidak takut kepada siapa pun selain Allah.”
(QS. al-Ahzāb: 39)»

Inilah kemerdekaan sejati seorang ulama.
Bukan berarti ia harus kasar.
Bukan berarti ia harus mencaci pemimpin.
Bukan pula berarti setiap nasihat harus diteriakkan di hadapan publik.

Nasihat mempunyai adab, hikmah, waktu, dan cara.

Allah bahkan memerintahkan Musa dan Harun عليهما السلام ketika menghadapi Fir‘aun:

«“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia sadar atau takut.”
(QS. Ṭāhā: 44)»

Perhatikanlah.
Lembut, tetapi tidak kehilangan kebenaran.
Santun, tetapi tidak kehilangan prinsip.
Dekat dengan penguasa, tetapi hati tetap merdeka di hadapan Allah.

Itulah keseimbangan yang mahal.
Jangan Sampai Kedekatan Mengubah Fatwa

Yang perlu ditakuti bukan semata-mata ulama berada dekat dengan penguasa.

Dalam sejarah Islam, banyak ulama berinteraksi dengan pemimpin untuk menasihati, mengajarkan agama, dan memperjuangkan kemaslahatan umat.

Yang berbahaya adalah ketika kedekatan itu mulai mengubah keberanian.

Ketika dahulu sesuatu disebut zalim, tetapi setelah dekat dengan kekuasaan ia diberi nama baru agar terdengar halal.
Ketika standar halal-haram berubah mengikuti siapa yang sedang memerintah.
Ketika dalil dipilih bukan untuk mencari kehendak Allah, tetapi untuk membenarkan kehendak manusia.

Saat itulah ilmu berada dalam ujian yang sangat berat.

Sebab seorang ulama mungkin tidak kehilangan sorban, mimbar, gelar, pengikut, atau popularitasnya.
Tetapi ia dapat kehilangan sesuatu yang jauh lebih mahal:

kemerdekaan nuraninya di hadapan Allah.

Wahai Ulama, Penguasa Akan Berganti

Hari ini seseorang duduk di singgasana kekuasaan.

Besok namanya mungkin tinggal sejarah.
Hari ini pintu istana terbuka lebar.
Besok boleh jadi orang lain yang menempatinya.

Hari ini manusia berdiri memberikan penghormatan.
Tetapi suatu hari ia akan dibaringkan dalam tanah, tanpa pengawal, tanpa jabatan, tanpa protokoler.

Demikian pula ulama.
Kita semua sedang berjalan menuju tempat yang sama.
Kubur.
Kemudian mahkamah Allah.

Maka janganlah dunia yang terlalu singkat membuat ilmu yang diwariskan para nabi kehilangan kehormatannya.
Jangan biarkan mimbar menjadi tempat mengharumkan manusia, sementara keberanian menyampaikan kebenaran perlahan menghilang.

Dan Wahai Para Penguasa...
Jangan hanya mencintai ulama yang memujimu.
Cintailah pula ulama yang dengan santun mengingatkanmu.

Jangan buru-buru menganggap orang yang menasihati sebagai musuh.
Boleh jadi orang yang selalu memujimu sedang menjaga kedudukannya di sisimu, sementara orang yang berani mengatakan kesalahanmu justru sedang menjaga keselamatanmu di hadapan Allah.

Betapa beruntung seorang pemimpin yang memiliki orang saleh di dekatnya yang berani berkata: “Takutlah kepada Allah.”

Dan betapa berbahayanya seorang pemimpin ketika seluruh orang di sekelilingnya telah belajar satu kalimat:

“Apa pun yang Anda lakukan, kami akan membenarkannya.”

Pada Akhirnya, Kita Akan Berdiri Sendiri

Wahai para pemilik ilmu...

Kita tidak sedang menyiapkan jawaban untuk penguasa.
Kita sedang menyiapkan jawaban untuk Penguasa seluruh penguasa.

Allah.

Suatu hari tidak ada lagi kamera.
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada jabatan.
Tidak ada panggung.
Tidak ada undangan kehormatan.
Tidak ada orang penting yang perlu kita senangkan.
Yang ada hanyalah seorang hamba berdiri membawa seluruh perkataannya di hadapan Rabb-nya.

Pada hari itu mungkin kita akan mengetahui betapa mahal harga sebuah kalimat kebenaran yang dahulu takut kita ucapkan.

Karena itu, bila penguasa berbuat baik, pujilah secara proporsional dan doakan agar ia istiqamah.

Bila ia keliru, nasihatilah dengan ilmu, hikmah, adab, dan keberanian.
Bila ia zalim, jangan jadikan agama sebagai kain indah untuk menutupi kezalimannya.

Sebab ulama tidak diwarisi ilmu para nabi agar menjadi gema bagi suara kekuasaan, tetapi agar menjadi cahaya yang menunjukkan jalan ketika kekuasaan mulai kehilangan arah.
Dan mungkin salah satu bentuk cinta terbesar seorang ulama kepada penguasa bukanlah banyaknya pujian yang ia berikan...

melainkan keberaniannya membisikkan kebenaran ketika semua orang di sekeliling sang penguasa memilih diam.

Sebab pujian mungkin membuat seorang penguasa tersenyum hari ini.
Tetapi nasihat yang tulus boleh jadi menyelamatkannya di hadapan Allah kelak.

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.

Oleh Ust Abdul Latif Khan
Serial dari Mihrab Maya
(Junaidy)
KABAR NASIONAL
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image